Author Topic: kepepet .. ^_^  (Read 2849 times)

b0bbyhs

  • User OtomaX
  • Jr. Member
  • **
  • Posts: 153
  • ^_^
kepepet .. ^_^
« on: June 08, 2011, 11:40:16 PM »
^_^

TAHUKAH anda kenapa begitu banyak orang gagal dalam usahanya untuk bisa sukses sewaktu merintis usaha?
Jawabnya karena mereka biasanya tidak betul-betul dalam kondisi “terdesak”*. Modal utama untuk sukses bukanlah uang, bukan ide jenius, bukan juga skill, pun bukan koneksi. Itu semua memang penting, tapi bukan yang nomor satu.
Modal utama dalam berusaha adalah adanya “perasaan terdesak”. Mental “kepepet” inilah yang akan menggebuk seseorang untuk sungguh-sungguh “fight” dalam merealisir usahanya. Dalam kondisi ketika dihadapkan pada pilihan “hidup” atau “mati” itulah talenta terbaik seseorang biasanya menerobos keluar. Sastrawan Pramudya Ananta Toer melahirkan karya-karya monumentalnya sewaktu ia berada di sebuah
penjara, di pulau Buru sana. Sementara itu Chairil Anwar menelorkan puisi-puisinya dalam situasi hidup yang bokek dan sakit-sakitan.
Bayangkanlah sekarang suatu kondisi ektrem lain. Misalnya mendadak hari ini anda dipecat dari pekerjaan anda yang nyaman dan bergaji besar. Pastilah kalau anda masih manusia normal, pada awalnya anda sempoyongan berat. Tapi sesudah itu anda dihadapkan pada pilihan sederhana : menyerah kalah begitu
saja atau mulai mencoba bangun mencari jalan keluar dari mimpi buruk itu. Ada banyak cerita sukses orang-orang yang berhasil keluar dari situasi chaos itu. Sukses itu mungkin malah tidak akan pernah mereka raih kalau saja mereka tetap berada dalam zona nyaman pekerjaan lama mereka.
Kenapa kelompok etnis Cina di negeri ini umumnya bisa “sukses” adalah juga karena kondisi “terdesak” itu, di samping karena etos “kerja keras” yang selama ribuan tahun terus dipompakan para ruh leluhur.

Mereka dibuat terpojok secara politis puluhan mungkin bahkan selama ratusan tahun, sehingga hanya tersedia sedikit pilihan bagi mereka menjadi juara badminton atau juragan tekstil,umpamanya. Karena kesempatan sukses hanya tersedia pada lahan yang begitu terbatas, tidak ada pilihan buat mereka kecuali bertarung habis-habisan di lahan yang “disisakan” buat mereka itu.

Tapi bagaimana kalau kita sebenar-benarnya memang tidak sedang “terdesak”, tapi menginginkan sebuah terobosan berarti dalam hidup kita? untuk kasus seperti ini gampang, ciptakanlah situasi “kepepet” artifisial, yang sanggup memaksa anda terpaksa berkelahi sungguhan, meskipun sebetulnya tidak ada ‘musuh’ di dekat anda.

Salam Super

Sumber 

**Otomax OID : 94e94133f4bdc1794c6b647b8ea134d0
**ym: b0bbyhs;   Hp: 089659312635         WhatsApp: 08881611362   WeChat:  b0bbyhs
**pin bb: 769936c5

b0bbyhs

  • User OtomaX
  • Jr. Member
  • **
  • Posts: 153
  • ^_^
Potret Seorang Muslim Ketika Kepepet
« Reply #1 on: June 08, 2011, 11:42:34 PM »
Disebutkan dalam sebuah kisah yang sahih bahwa Urwah bin Zubair bin Awwam, salah seorang ulama tabi’in senior, cucu dari Abu Bakr As-Siddiq, pernah melakukan perjalanan untuk menemui Khalifah Bani Umayah, Abdul Malik bin Marwan. Pada waktu itu, kaki Urwah sedang sakit, dan ada binatang kecil yang menggelayuti bagian luka di kakinya.

Ketika Urwah sampai di kediaman Abdul Malik bin Marwan, sang Khalilfah mendiskusikan masalah kaki Urwah yang sakit. Singkat cerita, Tabib kerajaan pun memeriksa penyakit yang dialami Urwah. Beliau mengusulkan, “Tidak ada jalan keluar selain kami harus memotong kaki Anda.” Urwah bertanya, “Bagaimana caranya?”

Sang Tabib menyarankan, “Anda minum khamar sampai mabuk. Setelah itu, kami potong (kaki Anda, ed.), sehingga Anda tidak mengalami rasa sakit.” Spontan, ulama bersahaja ini menjawab, “Aku tidak mau! Aku tidak ingin menghindari ujian Allah ini dengan bermaksiat kepada-Nya. Izinkan aku untuk shalat. Jika aku sedang berkonsentrasi dalam shalat, potonglah kakiku.” Setelah beliau benar-benar khusyuk dalam shalatnya, sang Tabib memotong kakinya.

Berselang seminggu setelah kakinya dipotong, anaknya jatuh dari atap dan meninggal. Beliau memiliki tujuh anak. Ketika informasi tentang anaknya ini sampai di telinga Urwah, beliau mengatakan, “Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji. Engkau mengambil salah satu di antara anakku dan Engkau sisakan enam. Engkau mengambil salah satu di antara anggota badanku dan Engkau sisakan tiga yang lainnya ….” (Jannatur Ridha, karya Abu Ishaq Al-Huwaini, hlm. 3)

Bisa kita bayangkan seandainya posisi kita sebagaimana Urwah, ketika anestesi belum ditemukan seperti sekarang. Hanya ada dua pilihan: menahan rasa sakit amputasi manual yang luar biasa atau menerjang maksiat kepada Allah dengan minum khamar. Pada posisi ini, manusia mendapatkan ujian mental. Di sini, keberanian manusia diuji. Mereka bisa jadi melawan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan jiwanya.

Kita yakin bahwa keadaan semacam ini nyaris tidak pernah luput dari perjalanan hidup manusia. Mulailah manusia terbelah menjadi dua golongan: kelompok pemenang yang tegar di atas kebenaran, meskipun nyaris merenggut nyawa dan golongan para pecundang, yang mudah menyerah dengan keadaan.

Seseorang, yang begitu tegar dalam menghadapi setiap masalah, tidak mengalami stres hanya gara-gara menghadapi ujian berupa kesempitan hidup. Hatinya tetap tegar dan wajahnya tetap menunjukkan sikap ridha terhadap semua takdir Allah.
Motivasinya jauh menembus batas dunia. Karena itu, sehebat apa pun ujian yang dialaminya, dia tidak gentar, tidak memelas kepada orang lain, dan tidak mudah menerima tawaran yang bertolak belakang dengan aturan syariat.
Sebaliknya, seorang pecundang akan lebih memilih solusi yang paling enak dan paling sesuai dengan seleranya. Halal-haram itu masalah belakangan, yang penting kenyang. Betapa banyak pengusaha yang rela untuk bergabung di kubangan riba, dengan alasan “kepepet cari modal”. Betapa banyak kaum muslimin yang bergabung di perusahaan yang “melanggar syariat”. Alasannya, yang penting dapat pekerjaan. Merekalah gambaran orang yang kalah sebelum berperang.
Barangkali ilustrasi di atas, terlalu berat untuk kita praktikkan. Namun, satu hal yang perlu kita yakini, bahwa diri kita bisa dilatih. Hanya saja, kita perlu keberanian tinggi untuk memulai. Mencoba mengambil keputusan yang tidak melanggar syariat, meskipun sangat menyakitkan diri kita.

Ini mungkin sangat sulit, namun tidak akan sesulit yang dibayangkan, bagi mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah. Karena itu, bantulah jiwamu untuk mendidik diri sendiri dengan banyak berdoa kepada Dzat Yang Mahakuasa.
Allahu a’lam.

Sumber 
**Otomax OID : 94e94133f4bdc1794c6b647b8ea134d0
**ym: b0bbyhs;   Hp: 089659312635         WhatsApp: 08881611362   WeChat:  b0bbyhs
**pin bb: 769936c5

b0bbyhs

  • User OtomaX
  • Jr. Member
  • **
  • Posts: 153
  • ^_^
The Power of Kepepet
« Reply #2 on: June 08, 2011, 11:43:32 PM »
^_^

Kita sebagai manusia selalu menginginkan banyak pilihan terhadap sesuatu. Misalkan anak anda lulus SMA, lalu melamar di 3 universitas. Universitas pertama menerima dan meminta membayar uang pangkal. "Kita bayar dulu sedikit. Tidak apa-apa, nanti kalau diterima yang lain, kita tidak usah melunasinya. Tidak apa rugi 2 juta," begitu kata anda.

Ternyata di universitas kedua, anak anda diterima. Anda melakukan hal yang sama seperti waktu diterima oleh universitas pertama. Sedangkan di universitas ketiga yang kita dambakan malah belum keluar pengumumannya.

Ya, kita selalu bimbang. Karenanya kita selalu mencoba untuk memiliki banyak pilihan. Sudah diterima kerja di tempat A, kita masih melamar pekerjaan di tempat B dan C. "Siapa tahu nanti tidak cocok, kita bisa pindah ke B atau ke C," begitu pikir kita.

Hal inilah menjadikan kita tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu karena banyaknya pilihan, banyaknya pintu yang terbuka dalam kehidupan kita. Kita lalu mempertahankan pintu-pintu itu supaya pilihan tersebut tetap terbuka. Sehingga kita siap untuk melompat ke pintu yang lain kalau 'kepepet' atau terjepit.

The power of kepepet, terjepit dalam suatu sudut yang kita tidak bisa kemana-mana, memaksa kita untuk melakukan satu pilihan. Karena memang tidak ada pilihan lain. Hal ini malah menurut psikolog mempunyai kekuatan yang besar untuk membuat kita melakukan hal-hal yang luar biasa dan mau berjuang habis-habisan. Kalau tidak, kita akan 'habis' karena memang tidak ada pilihan lain.

Tetapi selama anda memiliki pilihan lain, maka kita tidak akan fokus 100%. Kita selalu memikirkan, "Toh kalau tidak ada si A, kita bisa minta tolong kepada si B atau si C." Tapi kalau tidak ada yang menolong, mau tidak mau, kita harus bekerja keras mati-matian untuk itu.

Kadang kita dapat secara sengaja perlu menutup pintu-pintu lain. Kita bisa berkata, "Tidak ada yang lain kecuali ini. Mau tidak mau saya harus masuk ini. Pilihannya cuma 1." Maka itu akan membuat kita fokus dan berpikir lebih jernih. Kita akan mati-matian untuk berusaha secara maksimal. Pada akhirnya kalau kita melakukan hal ini akan membawa kesuksesan kepada anda daripada ada banyak pilihan yang bisa anda pilih.

Banyak sejarah dan bisnis menunjukkan orang yang terjepit, tidak dapat mundur lagi dan hanya punya satu pilihan, akan mempunyai semangat, energi dan kekuatan untuk maju dan mengalahkan semua rintangan. Dalam dunia perang, dimana pemimpin membakar kapalnya supaya semua serdadu tidak ada jalan kembali kecuali pergi perang dan menang, menang atau mati, maka semangatnya mengalahkan semua rintangan. Dalam bisnispun ketika kita terjepit dan tidak punya alternatif lain, menang atau mati, maka energi dan semangat  kita akan begitu kuat mengalahkan segala rintangan yang ada.

^_^
**Otomax OID : 94e94133f4bdc1794c6b647b8ea134d0
**ym: b0bbyhs;   Hp: 089659312635         WhatsApp: 08881611362   WeChat:  b0bbyhs
**pin bb: 769936c5

outhoink

  • User OtomaX --
  • Jr. Member
  • **
  • Posts: 260
Re: kepepet .. ^_^
« Reply #3 on: June 09, 2011, 06:11:00 AM »
Betul2..cuma bisa bilang Mantabs... motifasinya bos....