Forum Orisinil
Kategori Umum => Diskusi Umum => Topic started by: SASUKE UCHIHA on November 24, 2015, 10:24:49 AM
-
http://bisnis.liputan6.com/read/2373330/konsultasi-pajak-jual-pulsa-omzet-rp-500-juta-harus-bayar-pajak
Liputan6.com, Jakarta - Hi liputan 6, saya Eko dari Batam Kepulauan Riau. Saya adalah pedagang pulsa kecil-kecilan, reseller dengan omzet yang besar sekitar Rp 500 juta per bulan.
Akhir tahun ini, PT tempat saya bermitra sekarang meminta dan mengisyaratkan saya menyerahkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Yang mau saya tanyakan bagaimana cara menghitung pajak penjualan pulsa elektronik.
Contoh, modal Rp 5.250, Rp 10.250, Rp 19.900, Rp 49.100, Rp 97.550 lalu harga jual Rp 5.300 Rp 10.300, Rp 20.000, Rp 49.500 dan Rp 98.000.
Informasi yang saya dapatkan pajak setiap pengusaha dihitung 1 persen dari omzet. Bagaimana saya bisa membayar pajak sementara keuntungan per item tidak sampai 1 persen?
Pengirim: Ekou W
Email: ekouwXXXX@gmail.com
Jawaban:
Yth. Sdr. Eko,
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang berlaku efektif pada tanggal 1 Juli 2013, Wajib Pajak (WP) yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp 4,8 miliar dalam satu tahun pajak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final (PPh Final) dengan tarif 1 persen dari peredaran bruto tersebut.
Pengenaan PPh Final tersebut didasarkan pada peredaran bruto dari usaha (omzet) dalam satu tahun pada tahun pajak terakhir sebelumnya.
Oleh karena itu, kami sarankan agar Saudara terlebih dahulu mengecek omzet pada tahun 2014 untuk menentukan apakah penghasilan pada Tahun Pajak 2015 ini dikenakan PPh Final atau PPh Tidak Final.
Apabila omzet Saudara pada Tahun Pajak 2014 tidak melebihi Rp 4,8 miliar, maka penghasilan Saudara pada Tahun Pajak 2015 sebesar Rp 6 miliar (Rp 500 juta per bulan dikalikan 12 bulan) terutang PPh Final.
PPh Final harus disetorkan setiap bulan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Misalkan omzet Saudara pada bulan Januari 2015 adalah Rp 500 juta, maka Saudara harus menyetorkan PPh Final sebesar Rp 5 juta (1 persen x Rp 500 juta) paling lambat pada tanggal 15 Februari 2015.
Apabila omzet Saudara pada Tahun Pajak 2014 ternyata sudah melebihi Rp 4,8 miliar, maka penghasilan Saudara pada Tahun Pajak 2015 sebesar Rp 6 miliar terutang PPh dengan tarif umum (PPh Tidak Final).
Cara menghitung PPh Tidak Final adalah Penghasilan Kena Pajak dikalikan tarif PPh. Tarif PPh untuk WP Badan adalah 25 persen, sedangkan untuk WP Orang Pribadi adalah menggunakan tarif berlapis yaitu sebagai berikut:
- Untuk Penghasilan Kena Pajak sampai dengan Rp 50 juta, dikenakan PPh dengan tarif 5 persen;
- Untuk Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 50 juta sampai dengan Rp 250 juta, dikenakan PPh dengan tarif 15 persen;
- Untuk Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 250 juta sampai dengan Rp 500 juta, dikenakan PPh dengan tarif 25 persen;
- Untuk Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 500 juta dikenakan PPh dengan tarif 30 persen (tiga puluh persen).
Penghasilan Kena Pajak diperoleh dari pembukuan yang wajib Saudara lakukan berhubungan omzet Saudara telah melampaui batas Rp 4,8 miliar bagi orang pribadi yang diwajibkan menyelenggarakan pembukuan.
Penghasilan Kena Pajak tersebut pada dasarnya adalah jumlah penjualan (omzet) dikurangi dengan harga pokok penjualan dan biaya-biaya operasional lainnya yang dapat dibebankan menurut Undang-undang tentang Pajak Penghasilan (UU PPh).
Untuk WP Orang Pribadi, diberikan tambahan pengurangan yaitu Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Menanggapi komentar Saudara bahwa keuntungan penjualan pulsa tidak sampai 1 persen , kami berpendapat bahwa pengenaan PPh Final memang tidak adil bagi Wajib Pajak karena seyogianya Pajak Penghasilan dikenakan dari keuntungan bukan dari omzet.
Selanjutnya perlu kami sampaikan bahwa Saudara tetap berkewajiban melaporkan penghasilan dan menyetorkan PPh yang terhutang pada tahun-tahun sebelumnya meskipun Saudara baru mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP pada tahun ini sepanjang penghasilan saudara pada tahun-tahun sebelumnya telah melampaui PTKP.
Demikian penjelasan kami. Semoga membantu.
Salam,
Aldonius, S.E.
Konsultan Pajak – Citas Konsultan Global
-
yg jelas memang skrg ketat wajib pajak ..... saya telat gak bayar pajak ditlp dan tinyakan terus kapan bapak akan melakukan pembayaran ;D
-
bukannya pajak PULSA udah di tanggung oleh Privoder masing2.. ;D ;D ;D
setau saya.. DEALER maupun SUB DEALER PRIVODER UDAH.. BAYAR PAJAK ..(pph ) semuanya
trus klo kita harus bayar pajak lagi dari penjualan PULSA.. brarti DOBLE dong bayar pajaknya.. ;D ;D ;D
waah.. kantor pajak.. yg untung banyak..
-
Seharusnya pajak harus dibayar oleh produsen, dan kalau sudah di bayar oleh produsen pihak developer, agen ritail sudah tidak kena pajak lagi biar harga bisa murah.
-
Setahu saya utk ppn sebesar 10 persen memang sudah dibayar oleh produsen, utk pph memang dibayar oleh wajib pajak yang bersangkutan terkecuali pada barang2 yg bebas dari pengenaan pajak.
-
yg jelas memang skrg ketat wajib pajak ..... saya telat gak bayar pajak ditlp dan tinyakan terus kapan bapak akan melakukan pembayaran ;D
trus klo gak bayar pajak apa sangsinya bos ;D ;D ;D boleh tau
-
atas2 ku bayar pajak cuman buat formalitas aja toh..............
ujung2e buat NPWP juga bukan niatan tuk bayar pajak hnya ada kpeluan yg mewajibkan adanya NPWP :P
semisal bikin EDC , pinajm dana bank (gk wajib sih), dll
saya yakin yg brani jujur niatan utama bukan bayar pajak ;D
-
trus klo gak bayar pajak apa sangsinya bos ;D ;D ;D boleh tau
saya pernah gak bayar pajak selama 6bulan karna bising tlp bunyi teruss ahirnya saya bayar tuh selama 6 bulan lewat teller bank daerah ;D
msalah sanksi nya sih blm tau tp klu diperaturan sih bisa ditutupnya ijin usaha ................ itu kan klu sekelas cv/pt nah saya mah perorangan jd ..............
-
kusut juga klo margin 25perak omset ber MM
MISALNYA PLN
omset berpuluh M klo dipajak 1%
minus dunkk
wajib pajak si bner
tapi kan arus menyesuiakan juga sama keadaaan
yg diatas korup truz imbas ke rakyat dan pengusaha kecil
kayakknya pemerintah arus ada perhitungan jgn asal2 majakin '''sesuaikan juga sharusnya
-
kusut juga klo margin 25perak omset ber MM
MISALNYA PLN
omset berpuluh M klo dipajak 1%
minus dunkk
wajib pajak si bner
tapi kan arus menyesuiakan juga sama keadaaan
yg diatas korup truz imbas ke rakyat dan pengusaha kecil
kayakknya pemerintah arus ada perhitungan jgn asal2 majakin '''sesuaikan juga sharusnya
Misal denom 5K... beli 5.000 jual 5.200
Pajakin aja 1% dari Rp200
Server kan sebenernya jual jasa bukan jual pulsa... so... yang dipajakin hasil dari jualan jasanya... :P
Terus yang jualan pulsa siapa? yang jualan ya operator... :P emang kalau kita ada orang beli pulsa yang ngisi pulsa apakah kita? bukan... yang ngisi pulsa pelanggan ya operator... la kita? kita cuma jual jasa isi ulang... :P
Jadi, hakikatnya server pulsa bukan jual pulsa, tapi jual jasa isi ulang pulsa
-
Misal denom 5K... beli 5.000 jual 5.200
Pajakin aja 1% dari Rp200
Server kan sebenernya jual jasa bukan jual pulsa... so... yang dipajakin hasil dari jualan jasanya... :P
Terus yang jualan pulsa siapa? yang jualan ya operator... :P emang kalau kita ada orang beli pulsa yang ngisi pulsa apakah kita? bukan... yang ngisi pulsa pelanggan ya operator... la kita? kita cuma jual jasa isi ulang... :P
Jadi, hakikatnya server pulsa bukan jual pulsa, tapi jual jasa isi ulang pulsa
klo jual jasa brarti gk .. ada pungli pajak.. ;D ;D ;D ;D
-
klo jual jasa brarti gk .. ada pungli pajak.. ;D ;D ;D ;D
seharusnya si bgtw''klo pungli pun yg wajar2 aja.. ;D ;D ;D jgn kelewatan
bikin aturan sesuai logika
klo pungli itung omset
pasti menyeramkan
membunuh pengusahan secara tidak lngsung
-
Misal denom 5K... beli 5.000 jual 5.200
Pajakin aja 1% dari Rp200
Server kan sebenernya jual jasa bukan jual pulsa... so... yang dipajakin hasil dari jualan jasanya... :P
Terus yang jualan pulsa siapa? yang jualan ya operator... :P emang kalau kita ada orang beli pulsa yang ngisi pulsa apakah kita? bukan... yang ngisi pulsa pelanggan ya operator... la kita? kita cuma jual jasa isi ulang... :P
Jadi, hakikatnya server pulsa bukan jual pulsa, tapi jual jasa isi ulang pulsa
kalau begitu hampir semua pedagang jualan jasa dong? ;D
penjual makanan? jualan jasa memasak.
konter hp? jualan jasa, yang jualan hp kan produsen hp. ;D ;D ;D
-
cara menghitungnya bukan seperti itu, konsultan pajak selalu menganggap kalsifikasi server pulsa itu seperti bisnis UKM... walau perputaran ber M M, saya sudah konsultasi bersama dosen saya dulu sebelum buka server pulsa, dia mengatakan kalau operator yang berkewajiban membayar pajak PPn 10% karena dia si pemilik produk pulsa. sementara dealer sub dealer agen pemilik chip dan server pulsa ini hanya sebagai perantara saja.
kalo server pulsa mengenakan pajak PPn 10% atas produk yang dijualnya itu artinya kamu harus siap seperti indo/alfa mart karena mereka sudah PKP, dan siap-siap dipusingkan harus menyerahkan pembukuan untuk lapor pajaknya.
hasil bincang bincang ama dosen saya, Server pulsa ini bisa dimasukkan ke pajak penghasilan "lain-lain" karena tidak ada klasifikasi server pulsa pada kategori pajak..
jadi kalau ente pekerja, bagusnya ente masukin aja pengasilan lain lainnya sesuai keuntungan server pulsa. Dan lebih baik jika server kamu tidak ada wujud tempat usaha yang jelas (server rumahan -red) lebih baik tidak perlu di pusingkan, tapi jika servernya sudah besar dan buka outlet sendiri, lebih baik dipisahkan pajaknya pada saat membayar pph, dimasukkan ke klasifikasi pendapatan dari penghasilan lain.
asas pajak kita masih enak, masih isi sendiri, jadi sama kaya nyumbang isi sendiri mau berapa.
kalo kata orang pajak di daerah ane, "isi sendiri asal wajar dan tiap tahun harus naik terus atau sama, karena kalo turun kamu bisa diperiksa ;D"
-
Lieurlah mang hirup di endonesia mah mening pindah ka garut
-
Lieurlah mang hirup di endonesia mah mening pindah ka garut
emangna garut teh bukan endonesia ? ;D ;D ;D
-
orang pajak sudah pintar meghitung.jangan main2 sm pajak ya..
contoh 1:
anda masuk kan laporan pajak omset 20 juta perbulan berarti anda bayar 200rb/ bulan krg lebih.
di tahun yg sama anda punya tagihan entah cc atau mobil atau rumah atau apalah sebesar 10 juta . sangat tidak masuk logika. mana mungkin omset 20 juta km bs bayar tek bengek cicilan sj 10 juta belum biaya hidup sehari2 kopi rokok sabun air makan listrik (4juta)
omset 20 juta vs cicilan plus biaya hidup 14 juta = curang pajak!!!! masa bisa utg smpe 70 persen!!
contoh kedua
masuk kan laporan pajak omset 50 juta per bulan . bayar pajak 500rb/bulan
cicilan hutang rumah cc atau mobil = 10 juta
biaya hidup sehari2 makan rokokkopi gula susu sabun air bersih listrik =4 juta
omset 50 juta vs cicilan biaya hidup 14 juta = aman . logika nya 50juta x30 %(profit) =15 juta..
tidur nyenyak gak di ganggu orang pajak
peritungan ini sebenar nya krg lebih sm dengan yg ada di ilustrasi di atas tentang badan usaha di atas omset 4.8 m/th. kena pph 5 persen dengan profit 50 juta. di hitung2 sm krg lebih
.
mau cara mudah hitung atau cara ribet hitungnya...
yang pasti anda semua tidak akan bisa hindari pajak ke depan nya dan dendanya.. tertib pajak lah kita semua.
-
Orang Pintar Bayar Pajak+Minum Tolak Angin,Orang Iman Bayar Zakat+Shodaqoh ;D ;D Lanjut
-
Orang Pintar Bayar Pajak+Minum Tolak Angin,Orang Iman Bayar Zakat+Shodaqoh ;D ;D Lanjut
setuju dengan yang ini,simple :) :)
-
hukum kita
kbawahnya tajam bagat
tapi ke atas tumpul bgt
-
Buka aja konter kecil"an dan agan Masukkan penjualan pulsa konter aja sebagai pajak.
Misalnya, seorang pembeli melakukan recharge nominal 5.000, dikenakan biaya Rp 6.000. Nah, Dari Rp 6.000 tersebut, Misalnya harga beli Rp 5.200. Maka, selisih Rp 800 itulah yang kita akui sebagai omset dan omset inilah yang menjadi DPP (Dasar Pengenaan Pajak).
-
lebih baik di urus boss ,bener kata csserpul... di isi sewajarnya ( nyumbang) ,pengalaman temen"ku malah sekarang di datangin dinas pajak... tambah repot..
di usut harus riil..sesuai keadaan ;D
sekarang main jemput bola
mumpung belum ke enduss... segeralah urus pajak
-
Orang Pintar Bayar Pajak+Minum Tolak Angin,Orang Iman Bayar Zakat+Shodaqoh ;D ;D Lanjut
haha sip gan :D
-
PAJAK YAA
waahh............. ::)
-
;D
-
serpul yg sudah bayar pajak di mohon bimbingannya :D :D
-
emangna garut teh bukan endonesia ? ;D ;D ;D
Sumuhun kang mending ka sumedang lah ningali bendungan jatigede.. ;D.. ;D..urang nguseup..
-
Orang Pintar Bayar Pajak+Minum Tolak Angin,Orang Iman Bayar Zakat+Shodaqoh ;D ;D Lanjut
subhanallah... ya saya sudah pusing maenya MM aih nyerah euy masih server kecil cuma bisa nyimak.
-
Kalo nanti ada yang cari saya,,, tolong bilangin.. sedang mengecek pendingan yg mengekor :)
-
Lieurlah mang hirup di endonesia mah mening pindah ka garut
Mending pindah ka pangheotan kang.........hahahha tiisssssssss ;D
-
nyimak suhu :)
-
naikin lagi..apa kabar 2017 ke 2018